Jumat, 06 Juni 2014

kegiatan RAK

Asskumm.Wr.Wb.
sehubungan akan dilaksanakannya Rapat Anggota Komisariat (RAK) oleh HMI Cabang Malang Komisariat Al-Tsawrah pada:
tanggal :06 juni 2014
tempat :balai desa kepuharjo karangploso malang
tema :"proses rekontruksi mental kader HMI dalam fungsionalitas dan akuntabilitas menuju pengkaderan yang idealis"
maka kami mengundang kawan kawan semua demi suksesnya acara tersebut..

buletin Al-alif

  ANTARA HUKUMAN DAN PENGHARGAAN
 
                                                                Oleh : Fahrul Imran
 
Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa kaum kapitalis semakin merajalela diberbagai negara-negara maju maupun negara berkembang. Mengatasi implikatif berbagai macam aliran modal ( Inflow) yang berkembang tidak dapat dipungkiri. Kehadiran penguat negara membentuk kesejahteraan individualisme diberbagai macam aspek produksi. Berbicara kesejahteraan ataupun keadilan tentu berbicara transformasi masyarakat. Harapan masyarakat mayoritas tentu ingin keadilan yang setara, sekalipun itu keadilan yang berbau komunis.
Masyarakat  sipil (civil society) adalah masyarakat mayoritas ingin merdeka, mereka tidak ingin hak-haknya dirampas oleh kaum penghukum negara. Kecenderungan kaum produksi lebih insentif berkontribusi (dorongan penyaluran) dengan adanya kekurangan pada produk lain. Kepandaian mereka lebih kepada penghukuman dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tindakan-tindakan ini lebih progresif dibandingkan kelas borjuis atas, Satu kesempatan yang dilewati  maka taktik-taktik lebih cepat diatur kearah strategis. Tentu peluang kemenangan bagi kaum marhaen( kelas rendah) tidak dapat menikmati secara bertahap.
Kemungkinan yang muncul, hanya bervarian ditengah konseptual yang ada. Keresahan akan membungkuk ketika demokrasi-komunis berjuang dengan adanya penggabungan ideologi yang sama. Kesulitan negara Indonesia pada titik tekan demokrasi yang damai dan bebas, lantas tidak ada penjaminan sebuah negara akan makmur ketika demokrasi berkiprah diantara dua keterselubungan tersebut. Spekulatif (dugaan) boleh saja menganalisa antara dua jalan ini, karena penumpang gelap lebih cerdik dan licik. Tidak perlu harus melihat tontonan mereka, berlaku sebagai produsen cukup buas dalam menaklukan dunia maju (kontemporer). Tentu sebagai konsumtif akan jatuh dalam kebiasaan adat hingga mencapai sebuah target penggunaan yang lebih tinggi memaksa mereka untuk terkuras (out flow).
Ada problematika yang tidak bisa dijangkau, Seperti apa yang dikatakan oleh Karl Marx; “Bahwa hampir pada semua masyarakat negara, yang memang belum sepenuhnya menjelma sebagai entitas kapitalis murninya, tapi pada satu titik tertentu pasti akan bersifat kapitalis murni bila kemajuan-kemajuan ekonomi tetap menjadi prioritas utama Negara dan tetap dipertahankan”.
Mengutip halaman tersebut, bahwa akan ada musuh yang lebih besar secara internal yang kemudian akan membantai dan melekat menjadi sporadis (jamuran) negara. Kadang hal itu yang menjadi kebanggaan negara berkembang.
Mampukah Indonesia bertahan diantara problematika tersebut. Hampir semua produk berkualitas kaum penghukum menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Kehilangan jati diri bangsa Indonesia memang sudah kodrat yang harus diterima, mau berbuat apalagi ketika sudah dikungkung oleh modernitas-modernitas yang tidak mengenal kolektif. Indikasi yang muncul lebih pada individualisme, sehingga tertanam pada diri masyarakat bahwa apa yang mereka sumbang telah menjadi kebanggaan tersendiri. Kemerosotan kekuatan-kekuatan super power (kuat) telah membuat iklim badai yang spontan merubah keadaan budaya di Indonesia.
Tentu hal-hal tersebut yang menjadi masalah berat bagi bangsa, semua dibutakan dalam bentuk materil. Lantas apa yang harus dikembangkan ketika semua sektor sudah diekploitasi? Indonesia bagaikan budak negara lain yang harus menjadi umpan serigala bertaring seribu. Jika direalistiskan maka banyak terjadi kontras yang tidak seimbang, permainan yang dilakukan oleh kaum penghukum tidak menoleh kekanan dan kekiri sedikitpun. Negara ini bagaikan tempat terjadinya metabolisme suatu negara lain,  tidak berdasarkan pada mutualisme interaksi sosial. Pemerintah begitu santun dengan keadaan yang menyelimuti bangsa sendiri, sikap dan kebijakan hanya dengan mengukur dari barometer pemujaan. Memang bangsa ini harus maju, akan tetapi kemajuan tidak harus diukur dengan pemikiran dangkal. Cukup dengan membuat tesis-tesis pemikiran untuk dianalisa dan dibulatkan dalam bentuk strategis kedepan. Jangkauan pemerintah sebenarnya harus memahami psikologis bangsa seperti; Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
Ruang gerak bagi bangsa Indonesia sangat memadai apabila Sumber Daya Manusia(SDM) mampu memegang Sumber Daya Alam (SDA)nya. Kekalahan bukan di negara ini, melainkan negara asing yang akan menyembah-nyembah. Memang yang dibutuhkan adalah konsistensi atas harapan demokrasi walaupun masa transisi belum berakhir. Jalan demokrasi sudah memberikan lajur kiri untuk berjalan lurus, tinggal diimplementasikan, dan jika sewaktu-waktu terjadi tabrakan maka bukan suatu sistem yang salah tetapi ada kesalahan teknis yang berlawanan ingin menyebrang tanpa aturan. Inilah yang disebut kaum penghukum. Tanda-tanda semacam itu yang lebih praktis, karena bisa saja kaum tersebut menyodor upah kepada pengatur lalu lintas. Dari pemaparan diatas bentuk analogi sederhana dari penulis, kemungkinan saja bisa terjadi seperti itu. Oleh karena itu, wanti-wanti terhadap peran kaum penguasa. Konspirasi boleh saja terjadi dengan waktu amat singkat. Kelas penghukum akan membuat calon baru diseluruh penjuru Indonesia dan kalau sudah seperti itu tinggal menunggu keruntuhan melalui pengahargaan-penghargaan. [Fahrul Imran/ Faperta; agroteknologi, HMI unisma].

karya kader HMI

Dosa Setengah Tiang

Dosa  Setengah  Tiang
Akulah  pandawa  lintasan  dunia…
Terbentang  roh  jasad  terbuang  murka…
Bercerita  dongeng  ditimur  tengah…
Lelapan  hari  semakin  menzona…
Tiupan  angin  hembuskan  debu  kematian…
Suara  gagak  menghampiri  ujung  badan…
Janji  malaka  hanya  berupa  urat  setan…
Ketaklukan  terhindar  dari  ikatan  amalan…
Seruan  surat  sudah  terbaca  oleh  samudra…
Tangisan  pribumi  hadir  diselat  sunda…
Lompatan  akal  terbawa  aliran  dosa…
Lensa  takabur  hilang  diterpa  bencana…
Kerasan  batu  sukar  dipecah  air…
Sebagian  sudah  dimakan  sang  petir…
Semoga  kerap  berlalu  dengan  sihir…
Ujar  memandang,  bala  akan  tersingkir…
          
Karya: ‘Si  Rumput  Emas’  ( Kampoeng Rusa—SUMBAWA  BESAR ).

Memperingai Hari Kartini

SURYA Onlini, MALANG - Sekitar 30 anggota HMI Al Tsawrah Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar aksi untuk memperingai Hari Kartini, Minggu (21/4/2013), dengan menggalang dana untuk pemberantasan kanker serviks atau kanker mulut rahim.

Aksi dilakukan di perempatan ITN, Jalan Veteran Kota Malang dengan membawa poster dan bendera organisasi. Layaknya aksi lainnya, mereka juga melakukan orasi menyerukan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Beberapa orang di antara mereka, membawa kotak sumbangan yang disodorkan ke pengguna jalan. Menurut mediator aksi, Imayati Kalean, HMI Tsawrah ingin memberikan kontribusi nyata bagi wanita. "Kami ingin memberikan sesuatu yang nyata bagi kaum wanita. Seluruh sumbangan akan kami berikan untuk penanggulangan kanker serviks," ujarnya.